Minggu, 14 Agustus 2011

Zakat Barang Tambang, Zakat Hasil Laut dan Cara Penghitunganya


PENDAHULUAN

Barang Tambang yang dihasilkan dari perut bumi , cukup bnyak jenisnya. Menurut Ibnu Qudamah, contoh tambang  adalah emas, perak, timah, biji besi, intan, batu permata, batu bara dan lain-lain. Barang tambang yang cair seperti aspal, minyak bumi, bekerang, gas dan sebagainya.
Semua benda tersebut merupakan kekayaan yang amat tinggi nilainya. Bahkan bahan bakar minyak  (BBM) sangat penting kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. BBM ini pula yang menjadi sumber kekayaan Negara seperti Saudi Arabia, Irak, Kuait dan Negara-negara lainnya
Abu Hanifah, Hasan bin Shalih serta mazhab syi’ah Zadiyah dan para ulama yang sejalan pikirannya dengan Abu Hanifah berpendapat, bahwa hasil kekayaan laut itu, tidak dikenakan zakatnya, karena tidak ada nash yang tegas  dalam penetapan hukumnya. Sementara ada banyak pendapat lainnya.
Lalu bagaimana kejelasan dari pembahasan ini, mari bersama-sama kita coba bahas dalam makalah ini.kami sebagai pemakalah mencoba menelusuri berbagai referensi yang ada, juga situs internet, semoga kita bisa memahaminya kelak.

  
PEMBAHASAN
Zakat Barang Tambang, Zakat Hasil Laut dan Cara Penghitunganya

A.    Zakat Barang Tambang
1.      Pengertian Barang Tambang
Barang tambang dalam bahasa Arab disebut dengan ma’din kanz. Ibnu athir menyebut dalam an-Nihaya bahwa al-Ma’adin berarti tempat dimana kekayaan bumi seperti emas, perak, tembaga dan lain-lainnya keluar. Sedangkan kanz adalah tempat  tertimbunya harta benda karena perbuatan manusia.  
Ibnu Qudamah menyebutkan dalam al-mughnidefenisi ma’din, yaitu sesuatu pemberian bumi yang terbentuk dari benda lain tapi berharga. Ungkapannya “sesuatu pemberian bumi” berarti “bukan suatu pemberian laut” dan “bukan pula simpanan manusia” terbentuk dari benda lain  “bukan tanah dan lumpur” karena keduanya adalah adalah bagian dari bumi, dan beharga berarti merupakan harta benda yang ada sangkut pautnyadengan kewajiban-kewajiban lain.
Kanz adalah tempat tertibunnya harta benda karena  perbuatan manusia.
Rikaz mencakup keduanya (yakni ma’din dan kanz), karena kata ini berasal dari kakz yang berarti “simpanan”, tetapi yang dimaksud adalah maruz “yang disimpan”. Pengertiannya lebih luas dari pada yang menyimpan hanya tuhan atau makhluk saja.
Ibnu Qudamah mengemukakan contoh ma’adin itu seperti emas, perak, timah, besi, intan, batu permata, atik, dan batu bara. Demikian juga dengan barang tambangcair seperti minyak bumi, belerang dan lain-lain.[1]
Di dalam shahih Muslim di sebutkan dari abu hurairah, bahwa nabi Muhammad bersabda:

tidaklah seorang pemilik emas dan perak yang tidak mau menaikkan haknya, kecuali ketika hari kiamat nanti akan di hamparkan baginya lempengan-lempengan dari api, kemudian ia di panggang di atasnya di neraka jahannam, kemudian lempengan itu di gunakan untuk menyetrika pinggul, jidat dan punggungnya, setiap kali berangsur dingin, akan di kembalikan seperti keadaan semula, pada suatu hari yang sama dengan lima puluh ribu tahun, hingga semua hamba selesai di beri keputusan”.

Tambang yang dihasilkan dari perut bumi , cukup bnyak jenisnya. Menurut Ibnu Qudamah, contoh tambang  adalah emas, perak, timah, biji besi, intan, batu permata, batu bara dan lain-lain. Barang tambang yang cair seperti aspal, minyak bumi, bekerang, gas dan sebagainya. [2]
Semua benda tersebut merupakan kekayaan yang amay tinggi nilainya. Bahkan bahab bakar minyak  (BBM) sangat penting kegunaannyadalam kehidupan sehari-hari. BBM ini pula yang menjadi sumber kekayaan Negara seperti Saudi Arabia, Irak, Kuait dan negara-negara lainnya.

2.      Barang Tambang Yang Dikeluarkan Zakatnya
Ulama sepakat tentang adanya hak yang harus diambil dari produksi brang tambang, hal ini berdasarkan firman Allah SWT pada surat Al-baqarah ayat 267:

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.[3]

Emas dan perak merupakan logam mulia yang selain merupakan tambang elok, juga sering dijadikan perhiasan. Emas dan perak juga dijadikan mata uang yang berlaku dari waktu ke waktu. Islam memandang emas dan perak sebagai harta yang (potensial) berkembang. Oleh karena syara' mewajibkan zakat atas keduanya, baik berupa uang, leburan logam, bejana, souvenir, ukiran atau yang lain. Termasuk dalam kategori emas dan perak, adalah mata uang yang berlaku pada waktu itu di masing-masing negara. Oleh karena segala bentuk penyimpanan uang seperti tabungan, deposito, cek, saham atau surat berharga lainnya, termasuk kedalam kategori emas dan perak. sehingga penentuan nishab dan besarnya zakat disetarakan dengan emas dan perak.[4]
Barang tambang yang diambil zakatnya sebagai berikut:
a.       Imam Abu Hanifah berpendapat, bahwa barang tambang yang pengolahannya menggunakan api, dikenakan zakat.
b.      Imam Safi’i berpendapat, bahwa yang wajib dikeluarkan zakatnya hanya emas dan perak saja,sedangkan yang lainnya tidak seperti besi, tembaga, timah,Kristal, batu bara dan permata-permata lainnya.
Ibnu hazm mengatakan” kami sependapat dengan apa yang di katakana oleh imam syafi’I”. di dalam hal ini, ia berlandaskan pada sabda rasulllah yang artinya: “ perak itu terdapat zakat 1/40 dan pada 200 dirham, 5 dirham”.[5]
c.       Imam Hambali berpendapat, bahwa semuabarang tambang wajib dikeluarkan zakatnya, dan tidak ada perbedaan antara yang diolah dengan api dan yang tidak diolah dengan api. Demikian pula pendapat mazhab zaid bin Ali, Baqir dan shadiqdari golongan syi’ah.[6]
Pengarang al-mughani menetapakan hukum berdasarkan pendapat mazhab hambali, dan mengemukakan:
a.       Kita berpegang dengan maksud firman Allah SWT yang umum sifatnya.
b.      Zakat benda itu tergantung pada jenis barang tambang yang diproduksi.
c.       Karena barang ini merupakan harta kekayaan, zakatnya seperti emas.

3.      Besar Zakat yang Dikeluarkan
Berapa besar zakat yang dikeluarkan? mengenai hal ini pun terdapat berbagai macam pendapat:
a.       Imam Abu Hanifah dan ulama-ulama yang sejalan pikirannya dengan beliau mengatakan, bahwa zakat barang tambang itu sebesar 1/5 (20%). Beliau menyamakan barang tambang yang disediakan (barang yang terpendam) yang disimpan atau ditanamoleh manusia. Ulama-ulama yang sependapat dengan Abu Hanifah adalah Abu Ubaid, zaid bin Ali, Baqir, Shadiq dan sebagian ulama besar Syi’ah baik Syi’ah zadiyah maupun Syi’ahImamiyah.
b.      Imam Ahmad dan Ishaq berpendapat, besar zakat yang dikeluarkan 2,5% berdasarkan kepada zakat uang. Imam Malik dan syafi’I sejalan pendapat dengan Imam Ahmad.
Kelihatannya perbedaan pendapat ini berkisar antara 1/5 (20%) dan 1/40 (2,5) dengan argumentasi masing-masing. Perbedaan zakat ang harus dikeluarkan sangat jauh perbedaannya.
Oleh sebab itu Yusuf Qardlawi memilih jalan yang tidak begitu mencolok perbedaanya yaitu 1/10 (10%) bila tidak memerlukan biaya besar. Jadi sama dengan zakat hasil pertanian yang sama-sama dihasilkan dari bumi.

4.      Nisab Barang Tambang
Sebagaimana halnya penentuan zakat yang dikeluarkan terjadi perbedaan pendapat, masalah nisab pun terjadi perbedaan pendapat para ulama:
a.       Imam Abu Hanifah dan ulama-ulama yang sependapat dengan beliau mengatakan, bahwa barang tambang tidak terikat dengan nisab. Berapapun didapat wajib dikeluarkan zakatnya.
b.      Imam Malik, syafi’i, Ahmad dan Ishak berpendapat bahwa nisab tetap berlaku sebagaimana emas dan perak, apalagi hasil barang tambang itu berkembang seperti minyak bumi, tambang emas dan batu bara.
c.       Masa Pengeluaran Zakat
Apakah pengeluaran zakat barang tambang setiap penemuan atau setelah menunggu satu tahun?
a.       Abu Hanifah dan kawan-kawannya berpendapat tidak usah menunggu satu tahun. Harap diperhatikan bahwa ma’adin dan rikaz dipandang sama oleh beliau.
b.      Imam Malik, syafi’i, Ahmad dan Ishaq berpendapat bahwa barang tambang tetap terikat kepada haul, berbeda dengan harta karun.
Di Indonesia ini barang-barang tambang ditangani langsung oleh pemerintah. Dengan demikian kita sukar untuk membicarakan zakatnya, namun apabila ada pengusaha-pengusaha muslim yang mendapat  kesempatan untuk mengolah tambang apapun namanya, hendaknya juga memperhatikan masalh zakat hasil barang tambang tersebut.

Berlakukah ketentuan bagi barang tambang?        
Menurut pendapat jumhur ulama fiqih, barang tambang wajib di keluarkan zakatnya, pada waktu berhasil di tambang, dan di keluarkan setelah dibersihkan. Menurut malik, barang tambang sama kedudukannya dengan hasil tanaman, di tarik zakatnya pada hari barang itu berhasil di tambang, tidak menunggu masa satu tahun, sepertihalnya hasil tanaman yang ditarik zakatnya pada waktu selesai memanen dan tidak pula ditunggu masa berlaku satu tahun (pendapat terbesar ulama salaf dan khallaf).
Hal itu di bantah oleh ishaq dan ibnu mundziri, yang mempersyaratkan masa setahun sesuai dengan hadist “ tidak wajib zakat atas kekayaan yang belum berlalu masanya setahun”. Hadist itu sebenarnya dhaif yang tidak bisa di jadikan landasan hukum, dan di samping itu jumhur juga berpendapat  hadist itu tidak mesti berlaku umum, karena di khususkan hanya buat hasil tanaman dan buahan. Karena itu tidak bisa di analogikan ke logam mulia hasil tambang. [7]

5.      Sasaran Pengeluaran Zakat Barang Tambang
Bagaimanakah sasaran pengeluaran barang tambang itu?
Ulama-ulama fiqih juga berbeda pendapat tentang status pengambilan zakat barang tambang, Abu Hanifah dan kawan-kawannya berpendapat bahwa sasaran pengeluarannya adalah sasaran pengeluaran fai’, tetapi malik dan ahmad berpendapat bahwa sasaran pengeluaran nya adalah sasaran pengeuaran zakat. Syafi’I mengenai hal ini tak mempunyai satu pendapat. Ada yang mengatakan bahwa ia berpendapat sasaran pengeluarannya adalah sasaran pengeluaran zakat penuh, tetapi ada yang mengatakan sasaran  pengeluarannya adalah sasaran pengeluaran fai’ bila besar yang di tarik 20% tetapi bila di tarik 2,5% maka sasaran pengeluarannya adalah sasaran pengeluran zakat.

B.     Zakat Hasil Laut
Para ulama berbeda pendapat dalam penetapan zakat hasil laut seperti utiara, marjan dan ambar.
Abu Hanifah, Hasan bin Shalih serta mazhab syi’ah Zadiyah dan para ulama yang sejalan pikirannya dengan Abu Hanifah berpendapat, bahwa hasil kekayaan laut itu, tidak dikenakan zakatnya, karena tidak ada nash yang tegas  dalam penetapan hukumnya.
Kemudian ada lagi pendapat lain yang mengatakan bahwa kekayaan hasil laut itu zakatnya 20% (1/5). Ulama yang berpendapat demikian itu diantaranya  Abu Yusuf.
Bagi ulama-ulama yang mewajibkan zakat kita lihat, ada tiga pendapat yang menetapkan besar zakat yang dikeluarkan.
1.      Zakatnya 1/5 (20%) dianalogikan (diqiaskan)kepada ghanimah dan barang tambang yang dihasilkan dari perut bumi.
2.      Zakatnya 1/10 (10%) dianalogikan kepada zakat pertanian.
3.      Zakatnya 2,5% dianalogikan kepada zakat perdagangan.
Menurut pendapat Imam Maliki dan Syafi’i, besar zakat harus dibedakan, sesuai dengan berat ringannya mengusahakannya, besar biaya atau tidaknya dalam pengelolaannya, apakah 20 % atau 2,5%.[8]
Pada zaman sekarang di Indonesia kita lihat ada usaha pengembangan zakat rumput laut, mutiara dan penangkapan ikan dengan alat modern (kapal penangkapan ikan) dan malahan ada yang menyebutnya dengan “pukat harimau” yang menjaring ikan secara besaran-besaran yang mendapat protes dari nelayan-nelayan tradisianal.
Hal tersebut tidak bisa kita katakan bukan kekayaan. Malahan laut cukup banyak menghasilkan kekayaan. Inipun merupakan karunia Allah, mengapa tidak disyukuri sebagaimana karunia lainnya?
Mengenai besar pengeluaran zakatnya dapat kita lihat, apakah lebih mendekati barang tambang, pertanian (rumput laut) dan barang dagangan yang besarnya berbeda-beda (20%, 10% dan 2,5%).
Mengingat masalah ini adalah masalah ijtihadi (tidak ada ketentuan hokum yang pasti), kita dapat memilih dan menimbang-nimbang, pendapat mana yang agak tepat, dan yang terpenting tidak mengelak dari kewajiban mengeluarkan zakat.




KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Pengertian (barang tambang) Ma’din, Kanz dan Rikaz. Barang tambang dalam bahasa Arab disebut dengan ma’din kanz. Ibnu athir menyebut dalam an-Nihaya bahwa al-Ma’adin berarti tempat dimana kekayaan bumi seperti emas, perak, tembaga dan lain-lainnya keluar. Sedangkan kanz adalah tempat  tertimbunya harta benda karena perbuatan manusia.
Dalam menentukan apakah barang tambang dan hasil laut dikenakan zakat terdapat banyak pendapat ulama. Akan tetapi dalam penentuan zakat barang tambang,  pendapat hanbali, dan orang-orang yang sependapat dengan dia merupakan pendapat yang lebih kuat. Pendapat ini di dukung oleh maksud kata ma’din menurut pengertian bahasa di samping diperkuat oleh pandangan logis, karena tidak ada bedanya antara barang tambang padat dengan barang tambang cair, juga tidak ada bedanya antara yang di olah dengan yang tidak. Tidak ada beda antara besi dan timah, serta antara minyak bumi dengan balerang. Semuanya itu merupakan barang berharga.

B.     Saran
Kami sebagai pemakalah berharap hasil kerja kami ini, dapat membantu kita dalam menjawab segla macam pertanyaan seputar polemic zakat dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula dengan zakat barang tambang dan hasil laut.
Kami sebagai pemakalah juga sangat menyadari, bahwa banyak kekurangan dalam makalah kami ini, oleh sebab itu kami ucapkan banyak maaf atas segala kekhilafan dan kekurangan. Kami terima kritikan dan saran rekan-rekan. Atas perhatiannya terima kasih.


[1] Yusuf Qardawi,hukum zakat, bogor. PT Litera Antar Nusa, 1996, hal
[2] Opcit. Hal 415
[3] Abu fatiah al adnani,kunci ibadah lengkap,(Jakarta:Annur press,2009).hal 246
[4] /http//: www. Panduan Zakat. com
[5] Kamil Muhammad uwaiddah, fiqih wanita(Jakarta:al-kautsar 1998)hal 287
[6] Opcit, hal 415
[7]  ibid. Hal 416
[8] Ali hasan, masail fiqiyah, Jakarta, rajagragindo persada, 1996, hal19-25

1 komentar:

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda..!!